Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 20 September 2017 : MENGAJARKAN BERHARAP

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Tema katekese hari ini adalah "Mengajarkan Berharap". Oleh karena itu saya akan menyampaikannya secara langsung dengan "kamu" [yang lazim di Italia], membayangkan bahwa saya sedang berbicara sebagai pendidik, sebagai ayah kepada seorang pemuda atau kepada siapapun orang yang terbuka untuk belajar.

Pikirkan: di sanalah, tempat Allah telah menanamkan kamu, pengharapan! - selalu berharap.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 17 September 2017 : TENTANG PENGAMPUNAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari Minggu ini (bdk. Mat 18:21-35) memberi kita sebuah pengajaran tentang pengampunan, yang tidak mengingkari orang memikul kesalahannya, tetapi mengakui bahwa manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, selalu lebih besar daripada kejahatan yang dilakukannya. Santo Petrus bertanya kepada Yesus : "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (ayat 21). Bagi Petrus sudah nampak maksimal mengampuni orang yang sama sebanyak tujuh kali; dan mungkin bagi kita tampaknya banyak melakukannya dua kali. Tetapi Yesus menjawab : "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (ayat 22), yaitu selalu : kamu harus selalu mengampuni. Dan Ia menegaskannya dengan menceritakan perumpamaan tentang raja yang penuh belas kasih dan pelayan yang tak berbelas kasihan, yang di dalamnya Ia menunjukkan ketidakselarasan dalam diri orang yang pertama kali diampuni dan kemudian menolak untuk mengampuni tersebut.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 13 September 2017 : MARILAH KITA MENGAMBIL LANGKAH PERTAMA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Sebagaimana kalian ketahui, dalam beberapa hari ini saya melakukan perjalanan apostolik ke Kolombia. Saya bersyukur kepada Tuhan dengan sepenuh hati atas anugerah besar ini; dan saya ingin mengulangi ucapan terima kasih saya kepada Presiden Republik Kolombia, yang telah menerima saya dengan sangat sopan santun, para uskup Kolombia, yang bekerja keras untuk mempersiapkan kunjungan ini, dan juga otoritas lainnya di negara tersebut, serta semua pihak yang bekerja sama dalam mewujudkan perjalanan ini. Dan terima kasih khusus tertuju kepada rakyat Kolombia yang menyambut saya dengan penuh kasih sayang dan penuh sukacita! Rakyat yang penuh sukacita, dengan banyak penderitaan, tetapi penuh sukacita; sebuah bangsa dengan penuh sukacita. Salah satu hal yang paling mengejutkan saya di semua kota, di antara orang banyak, ada para ayah dan ibu bersama anak-anak, yang mengangkat anak-anak mereka agar Paus memberkati mereka, tetapi juga dengan bangga, menunjukkan kepada anak-anak mereka seolah mengatakan, "Inilah kebanggaan kami! Inilah pengharapan kami". Saya memikirkan : sebuah bangsa yang mampu memiliki anak-anak dan menunjukkan anak-anak tersebut dengan bangga, sebagai pengharapan mereka; penduduk ini memiliki sebuah masa depan. Dan saya sangat menyukai hal ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI GEREJA DAN BIARA SANTO PETRUS CLAVER, CARTAGENA DE INDIAS (KOLOMBIA) 10 September 2017

Saudara dan saudari terkasih,
Sesaat sebelum memasuki gereja ini tempat relikui Santo Petrus Claver tersimpan, saya memberkati batu pertama dari dua lembaga yang akan melayani orang-orang yang paling membutuhkan, dan saya mengunjungi rumah Nyonya Lorenza, yang setiap hari menyambut banyak saudara dan saudara kita, menawarkan mereka makanan dan kasih sayang. Kunjungan ini telah membuat saya sangat baik karena mereka menunjukkan bagaimana kasih Allah terlihat setiap hari.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 September 2017 : TENTANG KEBUTUHAN MEMIKUL SALIB

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari ini (bdk. Mat 16:21-27) adalah kelanjutan perikop Injil hari Minggu yang lalu, yang menyoroti pengakuan iman Petrus, "batu karang" yang di atasnya Yesus ingin mendirikan Gereja-Nya. Hari ini, dengan pertentangan yang mencolok mata, Matius menunjukkan kepada kita reaksi Petrus yang sama ketika Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan menderita di Yerusalem, dibunuh dan dibangkitkan (bdk. ayat 21). Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Dia karena hal ini - ia mengatakan kepada-Nya - tidak dapat terjadi pada-Nya, pada Kristus. Tetapi, Yesus pada gilirannya memarahi Petrus dengan kata-kata keras : "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia" (ayat 23). Beberapa saat sebelumnya, Sang Rasul diberkati oleh Bapa, karena ia telah menerima daripada-Nya pewahyuan itu, ia adalah sebuah "batu karang" yang kokoh yang di atasnya Yesus dapat mendirikan jemaat-Nya, dan segera setelah itu, ia menjadi sebuah rintangan, sebuah batu karang yang di atasnya bukan untuk mendirikan tetapi sebuah batu sandungan di jalan Mesias. Yesus tahu betul bahwa Petrus dan para rasul lainnya masih memiliki sebuah jalan yang panjang untuk menjadi para rasul-Nya!