Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 19 November 2017 : PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA DAN GAGASAN YANG SESUNGGUHNYA TENTANG ALLAH

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam hari Minggu terakhir Tahun Liturgi ini, Injil menyajikan perumpamaan tentang talenta (bdk. Mat 25:14-30). Sebelum berangkat pada sebuah perjalanan, seseorang memberikan talenta kepada para hambanya, yang pada masa itu merupakan mata uang bernilai besar : kepada hamba yang pertama sebesar lima talenta, kepada hamba yang kedua sebesar dua talenta, dan kepada hamba yang ketiga sebesar satu talenta, menurut kesanggupan masing-masing. Hamba yang menerima lima talenta berwirausaha dan berhasil mengembangkannya, menghasilkan lima talenta lagi. Hamba yang menerima dua talenta berperilaku dengan cara yang sama, dan mendapatkan dua talenta lagi. Sebaliknya, hamba yang menerima satu talenta menggali lubang di tanah dan menyembunyikan mata uang tuannya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 15 November 2017 : MISA ADALAH DOA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Kita melanjutkan dengan katekese tentang Misa Kudus Untuk memahami keindahan Perayaan Ekaristi, saya ingin memulai dengan aspek yang sangat sederhana : Misa adalah doa, lebih tepatnya, misa adalah doa yang par excellence, yang paling tinggi, yang paling agung dan, pada saat yang sama, yang paling "nyata". Sebenarnya, Misa adalah perjumpaan kasih dengan Allah melalui Sabda-Nya serta Tubuh dan Darah Yesus. Misa adalah perjumpaan dengan Tuhan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 12 November 2017 : PERUMPAMAAN TENTANG GADIS BODOH DAN GADIS BIJAKSANA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (bdk. Mat 25:1-13), menunjukkan kepada kita syarat untuk memasuki Kerajaan Surga, dan hal itu terjadi dengan perumpamaan tentang sepuluh gadis : perumpamaan tentang para pengiring mempelai yang bertanggung jawab untuk menerima dan menemani mempelai laki-laki menuju upacara pernikahan dan, seperti pada waktu itu biasanya dirayakan pada malam hari, para pengiring pengantin dilengkapi dengan pelita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 8 November 2017 : EKARISTI ADALAH "HATI" GEREJA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita memulai serangkaian katakese baru, yang akan mengarahkan pandangan kita pada "hati" Gereja, yaitu Ekaristi. Penting bagi kita umat kristiani untuk memahami dengan baik nilai dan makna Misa Kudus, benar-benar semakin menghayati secara penuh hubungan kita dengan Allah.

Kita tidak bisa melupakan sejumlah besar umat kristiani yang, di seluruh dunia, dalam dua ribu tahun sejarah, mengalami kematian untuk membela Ekaristi; dan berapa banyak lagi hari ini yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk ambil bagian dalam Misa hari Minggu. Pada tahun 304, selama penganiayaan Dioklesian, sekelompok umat kristiani di Afrika Utara terkejut, saat sedang merayakan Misa di sebuah rumah, dan ditangkap. Dalam interogasi tersebut, Pro-Konsul Romawi menanyai mereka mengapa mereka melakukannya, mengetahui bahwa itu benar-benar dilarang. Dan mereka menjawab: "Kami tidak bisa hidup tanpa hari Minggu", yang berarti : jika kita tidak dapat merayakan Ekaristi, kita tidak dapat hidup, kehidupan kristiani kita akan mati.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 5 November 2017 : KEWENANGAN LAHIR DARI KETELADANAN YANG BAIK

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari ini (bdk. Mat 23:1-12) berlangsung di Yerusalem pada hari-hari terakhir kehidupan Yesus - hari-hari yang diisi dengan pengharapan dan juga ketegangan. Di satu sisi Yesus menyampaikan kritik tajam kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dan di sisi lain Ia meninggalkan perintah-perintah penting bagi umat kristiani sepanjang masa, oleh karena itu juga bagi kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 November 2017 : HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi dan selamat berpesta! Hari Raya Semua Orang Kudus adalah pesta "kita", bukan karena kita baik tetapi karena kekudusan Allah telah menjamah hidup kita. Orang-orang kudus bukanlah model yang sempurna, tetapi orang-orang yang diliputi oleh Allah. Kita bisa membandingkan mereka dengan jendela-jendela gereja, yang membiarkan cahaya masuk dalam berbagai nuansa warna. Orang-orang kudus adalah saudara dan saudari kita yang menerima terang Allah di dalam hati mereka dan meneruskannya ke dunia, masing-masing orang sesuai dengan "nuansa"-nya sendiri. Namun, mereka terang-terangan; mereka berjuang untuk menghilangkan noda dan kegelapan dosa, agar memiliki lewatnya terang Allah yang baik hati. Inilah tujuan hidup : memiliki lewatnya terang Allah, dan juga tujuan hidup kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Oktober 2017 : TENTANG PERINTAH TERBESAR

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Liturgi hari Minggu ini menyajikan kepada kita sebuah perikop injili yang singkat namun sangat penting (bdk. Mat 22:34-40). Penginjil Matius menceritakan bahwa orang-orang Farisi berkumpul untuk mencobai Yesus. Salah seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, mengajukan kepada-Nya pertanyaan ini : "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (ayat 36). Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang berakal busuk karena di dalam Hukum Musa lebih dari enam ratus pasal disebutkan. Bagaimana kita bisa membedakan, di antara semua ini, perintah terbesar? Namun, Yesus tidak ragu-ragu dan menjawab : "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu". Dan Ia menambahkan : "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (ayat 37.39).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 25 Oktober 2017 : TENTANG SURGA, TUJUAN PENGHARAPAN KITA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Ini adalah katekese terakhir dengan tema pengharapan kristiani, yang telah menyertai kita sejak awal Tahun Liturgi ini. Dan saya akan mengakhiri berbicara tentang surga, sebagai akhir pengharapan kita.

"Firdaus" adalah salah satu kata terakhir yang diucapkan Yesus di kayu salib, yang ditujukan kepada penjahat yang baik. Marilah kita berhenti sejenak di tempat kejadian tersebut. Yesus tidak sendirian di kayu salib. Di sebelahnya, di sebelah kanan dan di sebelah kiri, ada dua pelaku kejahatan. Mungkin, melewati ketiga salib yang dipancangkan di Golgota itu, seseorang mendesah lega, berpikir bahwa akhirnya keadilan telah menempatkan orang-orang seperti ini sampai mati.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 22 Oktober 2017 : KEWAJIBAN KEPADA ALLAH DAN KEWAJIBAN KEPADA KAISAR

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (Mat 22:15-21) memaparkan kepada kita sebuah temu muka baru antara Yesus dan lawan-lawan-Nya. Tema yang dibahas adalah penghormatan kepada Kaisar - sebuah pertanyaan "berduri", tentang absah atau tidaknya membayar pajak kepada Kekaisaran Romawi, yang menjajah Palestina pada zaman Yesus. Kedudukannya berbeda; maka pertanyaan yang ditujukan kepada-Nya oleh orang-orang Farisi : "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" (ayat 17) sebuah jebakan bagi Sang Guru. Sebenarnya, berdasarkan bagaimana Ia menjawab, Ia akan dipersalahkan karenanya atau melawan Romawi.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 18 Oktober 2017 : PENGHARAPAN KRISTIANI DALAM MENGHADAPI KEMATIAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini saya ingin membandingkan pengharapan kristiani dengan kenyataan kematian, sebuah kenyataan yang cenderung semakin terhapuskan oleh peradaban modern kita. Jadi, ketika kematian tiba, terhadap orang yang dekat dengan kita atau terhadap diri kita, kita mendapati diri kita tidak siap, bahkan kehilangan "abjad" yang sesuai untuk mengucapkan kata-kata bermakna tentang misteri itu, yang bagaimanapun juga tetap ada. Tetapi tanda-tanda pertama peradaban manusia dilalui sebenarnya melalui keadaan yang membingungkan ini. Kita dapat mengatakan bahwa manusia dilahirkan dengan kultus orang mati.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 11 Oktober 2017 : PENANTIAN YANG WASPADA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini saya ingin merenungkan matra pengharapan yang sedang menanti dengan berjaga-jaga. Tema berjaga-jaga adalah tema dominan dan berulang dari Perjanjian Baru. Yesus berkhotbah kepada murid-murid-Nya: "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya" (Luk 12:35-36). Pada saat yang mengikuti kebangkitan Yesus ini, yang di dalamnya saat-saat tenang bergantian berkelanjutan dengan saat-saat penderitaan lainnya, umat kristiani tidak pernah berbaring. Injil menganjurkan agar kita menjadi seperti hamba-hamba yang tidak pernah tidur, sementara tuan mereka belum kembali. Dunia ini menuntut tanggung jawab kita, dan kita memikulnya sepenuhnya dan dengan cinta. Yesus menginginkan keberadaan kita bersusah payah, sehingga kita tidak pernah mengecewakan sang penjaga, menerima dengan rasa syukur dan kekaguman setiap hari baru yang diberikan kepada kita oleh Tuhan. Setiap pagi adalah sebuah halaman kosong yang padanya umat kristiani mulai menulis perbuatan-perbuatan baik. Penebusan Yesus telah menyelamatkan kita; tetapi, sekarang kita sedang menantikan perwujudan penuh ketuhanan-Nya : ketika Allah akhirnya akan menjadi semua di dalam semua (bdk. 1 Kor 15:28). Tidak ada yang lebih pasti dalam iman umat kristiani daripada "pengangkatan" ini, pengangkatan dengan Tuhan ini, ketika Ia datang. Dan ketika hari ini tiba, kita umat kristiani ingin menjadi seperti hamba-hamba yang menghabiskan malam dengan pinggang mereka tetap berikat dan pelita mereka tetap menyala; perlunya bersiap untuk keselamatan yang akan datang, bersiap untuk pertemuan tersebut. Pernahkah kamu berpikir bagaimana perjumpaan dengan Yesus akan terjadi saat Ia datang? Tetapi, perjumpamaan tersebut akan menjadi sebuah pelukan, sebuah sukacita yang besar, sebuah sukacita yang luar biasa! Kita harus hidup dalam pengharapan akan perjumpaan ini!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Oktober 2017 : PERUMPAMAAN TENTANG PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Liturgi hari Minggu ini menawarkan kita perumpamaan tentang para penggarap, kepada merekalah tuan tanah mempercayakan kebun anggur yang telah ia tanami dan kemudian pergi (bdk. Mat 21:33-43). Jadi kesetiaan para penggarap ini diuji : kebun anggur dipercayakan kepada mereka, yang harus menjaganya, membuatnya berbuah dan mengantarkan hasil panen kepada tuan tanah. Saat musim petik hampir tiba, tuan tanah mengutus hamba-hambanya untuk mengumpulkan buah. Namun, para penggarap mengambil sikap posesif : mereka tidak menganggap diri mereka para pengelola biasa, melainkan para pemilik, dan mereka menolak untuk memberikan hasil panen. Mereka menganiaya para hamba, sampai membunuh mereka. Tuan tanah bersabar dengan mereka : ia mengutus para hamba lainnya, lebih banyak daripada yang pertama; namun, hasilnya sama saja. Pada akhirnya, mengingat kesabarannya, ia memutuskan untuk mengutus putranya sendiri, tetapi para penggarap tersebut, para tahanan perilaku posesif mereka, juga membunuh sang putra, berpikir bahwa mereka akan memiliki warisan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 4 Oktober 2017 : TENTANG MISIONARIS PENGHARAPAN SAAT INI

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam katekese ini saya ingin berbicara mengenai tema "Misionaris Pengharapan Saat Ini". Saya dengan senang hati melakukannya pada awal bulan ini, yang dipersembahkan oleh Gereja terutama untuk misi, dan juga pada pesta Santo Fransiskus dari Asisi, yang merupakan seorang misionaris pengharapan yang luar biasa!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 27 September 2017 : TENTANG SETERU PENGHARAPAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Saat ini kita sedang berbicara tentang pengharapan; tetapi, hari ini saya ingin merenungkan bersama kalian seteru pengharapan, karena pengharapan memiliki seteru, sebagaimana setiap kebaikan di dunia ini memiliki seteru.

Dan muncullah dongeng kuno kotak Pandora : pembukaan kotak tersebut memicu begitu banyak bencana bagi sejarah dunia. Tetapi, sedikit yang ingat bagian terakhir dari cerita tersebut, yang membuka celah terang : setelah semua kejahatan keluar dari mulut kotak, sebuah hadiah kecil-kecilan tampak membalas dendam dalam menghadapi semua kejahatan yang sedang tertumpah. Pandora, wanita yang menjaga kotak ini merasakan yang terakhir : orang-orang Yunani menyebutnya elpis, yang berarti pengharapan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 24 September 2017 : PERUMPAMAAN TENTANG TUAN RUMAH YANG MEMANGGIL PARA PEKERJA UNTUK KEBUN ANGGURNYA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam perikop Injil hari ini (bdk. Mat 20:1-16) kita memiliki perumpamaan tentang para pekerja yang diminta bekerja harian, yang dikisahkan oleh Yesus untuk menyampaikan dua aspek Kerajaan Allah : aspek yang pertama, bahwa Allah ingin memanggil semua orang bekerja untuk Kerajaan-Nya; aspek yang kedua, bahwa pada akhirnya Ia ingin memberikan semua orang imbalan jasa yang sama, yaitu, keselamatan, kehidupan kekal.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 20 September 2017 : MENGAJARKAN BERHARAP

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Tema katekese hari ini adalah "Mengajarkan Berharap". Oleh karena itu saya akan menyampaikannya secara langsung dengan "kamu" [yang lazim di Italia], membayangkan bahwa saya sedang berbicara sebagai pendidik, sebagai ayah kepada seorang pemuda atau kepada siapapun orang yang terbuka untuk belajar.

Pikirkan: di sanalah, tempat Allah telah menanamkan kamu, pengharapan! - selalu berharap.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 17 September 2017 : TENTANG PENGAMPUNAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari Minggu ini (bdk. Mat 18:21-35) memberi kita sebuah pengajaran tentang pengampunan, yang tidak mengingkari orang memikul kesalahannya, tetapi mengakui bahwa manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, selalu lebih besar daripada kejahatan yang dilakukannya. Santo Petrus bertanya kepada Yesus : "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (ayat 21). Bagi Petrus sudah nampak maksimal mengampuni orang yang sama sebanyak tujuh kali; dan mungkin bagi kita tampaknya banyak melakukannya dua kali. Tetapi Yesus menjawab : "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (ayat 22), yaitu selalu : kamu harus selalu mengampuni. Dan Ia menegaskannya dengan menceritakan perumpamaan tentang raja yang penuh belas kasih dan pelayan yang tak berbelas kasihan, yang di dalamnya Ia menunjukkan ketidakselarasan dalam diri orang yang pertama kali diampuni dan kemudian menolak untuk mengampuni tersebut.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 13 September 2017 : MARILAH KITA MENGAMBIL LANGKAH PERTAMA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Sebagaimana kalian ketahui, dalam beberapa hari ini saya melakukan perjalanan apostolik ke Kolombia. Saya bersyukur kepada Tuhan dengan sepenuh hati atas anugerah besar ini; dan saya ingin mengulangi ucapan terima kasih saya kepada Presiden Republik Kolombia, yang telah menerima saya dengan sangat sopan santun, para uskup Kolombia, yang bekerja keras untuk mempersiapkan kunjungan ini, dan juga otoritas lainnya di negara tersebut, serta semua pihak yang bekerja sama dalam mewujudkan perjalanan ini. Dan terima kasih khusus tertuju kepada rakyat Kolombia yang menyambut saya dengan penuh kasih sayang dan penuh sukacita! Rakyat yang penuh sukacita, dengan banyak penderitaan, tetapi penuh sukacita; sebuah bangsa dengan penuh sukacita. Salah satu hal yang paling mengejutkan saya di semua kota, di antara orang banyak, ada para ayah dan ibu bersama anak-anak, yang mengangkat anak-anak mereka agar Paus memberkati mereka, tetapi juga dengan bangga, menunjukkan kepada anak-anak mereka seolah mengatakan, "Inilah kebanggaan kami! Inilah pengharapan kami". Saya memikirkan : sebuah bangsa yang mampu memiliki anak-anak dan menunjukkan anak-anak tersebut dengan bangga, sebagai pengharapan mereka; penduduk ini memiliki sebuah masa depan. Dan saya sangat menyukai hal ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI GEREJA DAN BIARA SANTO PETRUS CLAVER, CARTAGENA DE INDIAS (KOLOMBIA) 10 September 2017

Saudara dan saudari terkasih,
Sesaat sebelum memasuki gereja ini tempat relikui Santo Petrus Claver tersimpan, saya memberkati batu pertama dari dua lembaga yang akan melayani orang-orang yang paling membutuhkan, dan saya mengunjungi rumah Nyonya Lorenza, yang setiap hari menyambut banyak saudara dan saudara kita, menawarkan mereka makanan dan kasih sayang. Kunjungan ini telah membuat saya sangat baik karena mereka menunjukkan bagaimana kasih Allah terlihat setiap hari.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 September 2017 : TENTANG KEBUTUHAN MEMIKUL SALIB

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari ini (bdk. Mat 16:21-27) adalah kelanjutan perikop Injil hari Minggu yang lalu, yang menyoroti pengakuan iman Petrus, "batu karang" yang di atasnya Yesus ingin mendirikan Gereja-Nya. Hari ini, dengan pertentangan yang mencolok mata, Matius menunjukkan kepada kita reaksi Petrus yang sama ketika Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan menderita di Yerusalem, dibunuh dan dibangkitkan (bdk. ayat 21). Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Dia karena hal ini - ia mengatakan kepada-Nya - tidak dapat terjadi pada-Nya, pada Kristus. Tetapi, Yesus pada gilirannya memarahi Petrus dengan kata-kata keras : "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia" (ayat 23). Beberapa saat sebelumnya, Sang Rasul diberkati oleh Bapa, karena ia telah menerima daripada-Nya pewahyuan itu, ia adalah sebuah "batu karang" yang kokoh yang di atasnya Yesus dapat mendirikan jemaat-Nya, dan segera setelah itu, ia menjadi sebuah rintangan, sebuah batu karang yang di atasnya bukan untuk mendirikan tetapi sebuah batu sandungan di jalan Mesias. Yesus tahu betul bahwa Petrus dan para rasul lainnya masih memiliki sebuah jalan yang panjang untuk menjadi para rasul-Nya!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Agustus 2017 : TENTANG KENANGAN, PENGHARAPAN DAN PANGGILAN

Hari ini saya ingin kembali ke pokok bahasan yang sangat penting: hubungan antara pengharapan dan kenangan, dengan mengacu khususnya kepada kenangan akan panggilan. Dan saya mengambil sebagai contoh panggilan Yesus kepada murid-murid pertama. Pengalaman ini tetap terekam dalam ingatan mereka, yang mana salah seorang dari mereka bahkan mencatat jamnya : "waktu itu kira-kira pukul empat" (Yoh 1:39). Penginjil Yohanes menceritakan ulang episode tersebut sebagai sebuah kenangan masa muda yang jelas, yang tetap utuh dalam kenangannya sebagai seorang tua, karena Yohanes menuliskan hal-hal ini saat ia sudah lanjut usia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 27 Agustus 2017 : TENTANG PENGAKUAN IMAN KEPADA KRISTUS, PUTRA ALLAH

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (Mat 16:13-20) membawa kita kembali ke perikop kunci dalam perjalanan Yesus bersama murid-murid-Nya : saat di mana Ia ingin menguji titik yang telah dicapai oleh iman mereka kepada-Nya. Pertama, Ia ingin tahu apa pendapat orang tentang Dia; dan orang-orang berpikir bahwa Yesus adalah seorang nabi, sesuatu yang benar, tetapi itu tidak memahami inti pokok Pribadi-Nya, itu tidak memahami inti pokok perutusan-Nya. Kemudian Ia mengajukan kepada murid-murid-Nya pertanyaan yang paling banyak ada di hati-Nya, yaitu Ia langsung bertanya kepada mereka : "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" (ayat 15). Dengan "tetapi" itu dengan tegas Yesus memisahkan para rasul dari orang banyak, seolah-olah mengatakan : Tetapi kamu, yang bersama-Ku setiap hari dan mengenal-Ku dari dekat, apa lagi yang telah kamu baca? Sang Guru mengharapkan, dari murid-murid-Nya sendiri, sebuah jawaban yang luhur dan berbeda dari jawaban orang banyak. Dan, pada kenyataannya, jawaban semacam itu justru muncul dari hati Simon, yang disebut Petrus : "Engkau adalah Mesias, Putra Allah yang hidup!" (ayat 16). Simon Petrus mengucapkan kata-kata yang lebih besar dari dirinya, kata-kata yang tidak berasal dari kemampuan alamiah dirinya. Mungkin ia tidak belajar di sekolah dasar, dan ia bisa mengatakan kata-kata ini, yang lebih kuat dari dirinya! Tetapi, kata-kata tersebut diilhami oleh Bapa surgawi (bdk. ayat 17), yang mengungkapkan kepada Sang Rasul pertama Kelompok Dua Belas jatidiri Yesus yang sesungguhnya : Dialah Mesias, Sang Putra yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan umat manusia. Dari jawaban ini, Yesus mengerti bahwa, berkat iman yang diberikan oleh Bapa, ada sebuah landasan yang kokoh yang di atasnya Ia dapat membangun jemaat-Nya, Gereja-Nya. Oleh karena itu, Ia berkata kepada Simon : "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku" (ayat 18).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 23 Agustus 2017 : PENGHARAPAN KRISTIAN ADALAH SAMBUTAN SURGAWI ALLAH

Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar". Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan. Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku (Why 21:5-7)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Kita mendengarkan Sabda Allah dalam Kitab Wahyu, dan Sabda tersebut mengatakan demikian : "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" (21:5). Pengharapan kristiani berlandaskan iman kepada Allah, yang selalu menciptakan hal-hal baru dalam kehidupan manusia, Ia menciptakan hal-hal baru dalam sejarah dan Ia menciptakan hal-hal baru dalam alam semesta. Allah kita adalah Allah yang menciptakan hal-hal baru, karena Ia adalah Allah kejutan-kejutan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 20 Agustus 2017 : TENTANG KEBUTUHAN AKAN IMAN YANG TAK TERGOYAHKAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari ini (Mat 15:21-28) memaparkan kepada kita sebuah teladan iman yang luar biasa dalam pertemuan Yesus dengan seorang perempuan Kanaan, seorang asing bagi orang-orang Yahudi. Adegan itu terbentang ketika Ia dalam perjalanan ke kota Tirus dan Sidon, sebelah barat laut Galilea : di sanalah perempuan tersebut memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan putrinya yang, menurut Injil, "kerasukan setan dan sangat menderita" (ayat 22). Awalnya Tuhan nampaknya tidak mendengarkan teriakan kesedihan ini, sedemikian rupa sehingga membangkitkan campur tangan para murid, yang menengahi dia. Kebersikukuhan Yesus yang terang-terang tersebut tidak mengecilkan hati ibu ini, yang bersikeras pada permintaannya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Agustus 2017 : TENTANG HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini, Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga, Injil memaparkan kepada kita perempuan muda Nazaret yang, setelah menerima pemberitahuan Malaikat, bergegas mendekati Elisabet, pada bulan-bulan terakhir kehamilannya yang ajaib. Sesampainya di rumahnya, Maria menerima dari mulutnya kata-kata yang keluar yang membentuk doa "Salam Maria" : "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu" (Luk 1:42). Sesungguhnya, karunia terbesar yang dibawa Maria bagi Elisabet - dan bagi seluruh dunia - adalah Yesus, yang sekarang hidup di dalam dirinya; serta hidup tidak hanya oleh iman dan pengharapan, seperti dalam begitu banyak perempuan Perjanjian Lama : Yesus mengambil rupa daging manusia dari Perawan Maria untuk perutusan keselamatan-Nya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 13 Agustus 2017 : TENTANG PENTINGNYA IMAN YANG KOKOH

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini perikop Injil (Mat 14:22-33) memaparkan kisah Yesus yang, setelah berdoa sepanjang malam di pantai Danau Galilea, berangkat menuju perahu murid-murid-Nya dengan berjalan di atas air. Perahu itu berada di tengah danau, terhalang angin kencang yang dahsyat. Ketika mereka melihat Yesus berjalan di atas air, para murid mengira Ia adalah seorang hantu dan menjadi takut. Tetapi Ia meyakinkan mereka : "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (ayat 27). Petrus, dengan keberaniannya seperti biasa, berkata kepada-Nya : "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air" : dan Yesus memanggilnya : "Datanglah!" (ayat 28-29). Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air menuju Yesus; tetapi, karena angin tersebut, ia takut dan mulai tenggelam. Kemudian ia berteriak : "Tuhan, tolonglah aku!". Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia (ayat 30-31).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Agustus 2017 : PENGAMPUNAN DAN BELAS KASIH ILAHI ADALAH PENGGERAK PENGHARAPAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Kita mendengar reaksi orang-orang Farisi tamu Simon : "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" (Luk 7:49). Yesus baru saja melakukan sebuah tindakan yang menimbulkan pergunjingan. Seorang perempuan di kota itu, yang dikenal oleh semua orang sebagai seorang pendosa, memasuki rumah Simon, berlutut di kaki Yesus dan menuangkan minyak wangi ke kaki-Nya. Semua orang yang ada di meja berkata dalam hati : jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini. Para perempuan itu, hal-hal yang buruk, hanya berguna dijumpai secara tersembunyi, juga oleh para pemimpin, atau dilempari batu. Menurut mentalitas saat itu, pemisahan antara orang-orang kudus dan orang-orang berdosa, antara yang tahir dan yang tidak tahir, haruslah jelas.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Agustus 2017 : TENTANG PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAAN-NYA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu ini liturgi merayakan Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya. Injil hari ini menceritakan kepada kita bahwa Rasul Petrus, Yakobus dan Yohanes adalah saksi-saksi dari peristiwa luar biasa ini. Yesus membawa mereka bersama-Nya "dan menuntun mereka naik ke sebuah gunung yang tinggi" (Mat 17:1) dan, ketika Ia sedang berdoa, wajah-Nya berubah rupa, bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Lalu Musa dan Elia muncul, sedang berbicara dengan-Nya. Pada titik ini, Petrus berkata kepada Yesus, "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia" (ayat 4). Ia belum selesai berbicara saat awan terang menaungi mereka.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 2 Agustus 2017 : TENTANG BAPTISAN, PINTU PENGHARAPAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Ada saat ketika gereja-gereja berkiblat ke Timur. Kita memasuki bangunan suci dengan sebuah pintu yang terbuka menuju ke Barat dan, berjalan di bagian tengah bangunan, kita terarah ke Timur. Itulah sebuah simbol penting bagi manusia dahulu kala, sebuah alegori yang dalam perjalanan sejarah semakin menurun. Kita orang-orang zaman modern, apalagi terbiasa menyimak tanda-tanda besar alam semesta, hampir tidak pernah memperhatikan hal semacam itu. Barat adalah titik utama matahari terbenam, di mana terang menghilang. Sebaliknya, Timur adalah tempat di mana kegelapan dikalahkan oleh terang pagi-pagi buta dan mengingatkan kita akan Kristus, Sang Surya yang berasal dari tempat tinggi cakrawala dunia (Luk 1:78).

Ritus Baptisan dahulu kala berpraduga bahwa para katekumen seharusnya memancarkan tahap pertama pengakuan iman mereka dengan mata mengarah ke Barat. Dan dalam posisi itu, mereka ditanya : "Apakah kamu menolak Setan, pelayanannya dan karyanya?". Dan orang-orang kristiani yang lebih kemudian mengulangi serempak : "Aku menolak!". Kemudian mereka berpaling ke kubah gereja, ke arah Timur, di mana terang dilahirkan, dan para calon baptis kembali ditanyai : “Apakah kamu percaya pada Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus?” Dan kali ini mereka menjawab : “Aku percaya”.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 Juli 2017 : TENTANG PERUMPAMAAN HARTA YANG TERPENDAM DAN MUTIARA YANG SANGAT BERHARGA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Wacana pengibaratan Yesus, yang mengelompokkan tujuh perumpamaan dalam Injil Matius bab 13, berakhir dengan tiga perumpamaan yang serupa hari ini : harta yang terpendam (ayat 44), mutiara yang sangat berharga (ayat 45-46) dan pukat (ayat 47-48). Saya berhenti sejenak pada dua perumpamaan pertama, yang menekankan keputusan pelaku utama untuk menjual semuanya guna mendapatkan apa yang telah mereka temukan. Dalam kasus pertama, seorang petani yang kebetulan menemukan harta yang terpendam di ladang tempat ia sedang bekerja. Ladang tersebut bukan miliknya, ia harus mendapatkannya jika ia ingin memiliki harta yang terpendam itu : maka ia memutuskan untuk mempertaruhkan seluruh kekayaannya agar tidak kehilangan kesempatan yang sungguh luar biasa itu. Dalam kasus kedua kita mendapati seorang pedagang mutiara; ia, sebagai seorang pakar yang berpengalaman, telah memilih sebuah mutiara yang sangat berharga. Ia juga memutuskan untuk mempertaruhkan segalanya pada mutiara itu, hingga menjual seluruh mutiara lainnya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 23 Juli 2017 : PERUMPAMAAN TENTANG BENIH YANG BAIK DAN LALANG

Perikop Injil hari ini menawarkan tiga perumpamaan yang dengannya Yesus mengatakan tentang Kerajaan Surga kepada orang banyak. Saya akan merenungkan perumpamaan yang pertama : perumpamaan tentang benih yang baik dan lalang, yang menggambarkan masalah kejahatan di dunia dan menyoroti kesabaran Allah (bdk. Mat 13:24-30.36-43). Betapa sabarnya Allah! Kita masing-masing juga bisa mengatakan hal ini : "Betapa sabarnya Allah terhadapku!". Cerita membentang di sebuah lapangan dengan dua tokoh utama yang berseberangan. Di satu pihak, tuan ladang, yang mewakili Allah dan menabur benih yang baik; di pihak lain musuh, yang mewakili Setan dan menabur lalang.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 16 Juli 2017 : PERUMPAMAAN TENTANG PENABUR

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Ketika Yesus berbicara Ia mempergunakan bahasa yang sederhana dan juga mempergunakan gambaran-gambaran, yang merupakan contoh-contoh yang diambil dari kehidupan sehari-hari, agar mudah dipahami oleh semua orang. Oleh karena itu, mereka mendengarkan-Nya dengan senang hati dan menghargai pesan-Nya, yang langsung masuk ke dalam hati mereka : dan pesan-Nya bukanlah bahasa yang tidak rumit untuk dipahami, seperti yang dipergunakan oleh para ahli Taurat pada masa itu, yang tidak dipahami dengan baik tetapi penuh kekakuan dan menjauhkan orang-orang. Dan dengan bahasa ini, Yesus membuat misteri Kerajaan Allah dipahami, bahasa Yesus bukanlah suatu teologi yang rumit. Dan contohnya adalah apa yang disampaikan Injil hari ini : perumpamaan tentang penabur (Mat 13:1-23).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 Juli 2017 : MENEMUKAN KELEGAAN SEJATI DI DALAM TUHAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Injil hari ini, Yesus mengatakan : "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Mat 11:28). Tuhan tidak menyimpan ungkapan ini untuk beberapa sahabat-Nya, tidak, Ia menyampaikannya kepada "semua" orang yang letih lesu dan tertekan oleh kehidupan. Dan siapa yang bisa merasa terkecualikan dari undangan ini? Tuhan tahu betapa beratnya beban kehidupan. Ia tahu bahwa banyak hal yang membuat hati letih lesu : kekecewaan dan luka masa lalu, beban yang dibawa dan kesalahan yang ditanggung saat ini, ketidakpastian dan kekhawatiran akan masa depan.

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2017 (GAGASAN PENDUKUNG)



KABAR GEMBIRA DI TENGAH GAYA HIDUP MODERN


Arus zaman dunia modern melanda seluruh bangsa manusia termasuk Gereja. Banyak hal positif yang dihasilkannya. Arus aman teknologi, misalnya, membuat pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Informasi dan komunikasi menjadi lebih mudah dan cepat. Kemudahan dan kecepatannya menjadikan dunia bagaikan satu desa kecil. Itulah sebabnya, Gereja dianjurkan juga untuk menggemakan Sabda Allah tidak hanya melalui media cetak, tetapi juga melalui bentuk-bentuk komunikasi yang lain terutama internet.

Namun, tidak sedikit pula hal negatif yang dimunculkan oleh arus zaman modern sehingga perlu diteliti secara cermat agar bisa diperbaiki. Hal ini disebut oleh Paus Fransiskus dalam himbauan apostoliknya, Evangelii Gaudium, suka cita injil. Dalam himbauan apostolik tersebut dilukiskan masalah besar yang melanda dunia modern yang akhirnya ikut melanda Gereja juga. Masalah-masalah besar itu terkait dengan mentalitas negatif budaya modern seperti konsumerisme, hedonisme, sekularisme, individualisme, kesenjangan sosial, dan fundamentalisme agama. Maka, Paus Fransiskus menyerukan kepada semua komunitas untuk selalu meneliti dengan cermat tanda-tanda zaman dan menanggapinya secara efektif.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 2 Juli 2017 : MISIONARIS MEMBAWA YESUS, BUKAN DIRINYA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Liturgi hari ini menyajikan kepada kita bagian terakhir wacana misioner Injil Matius bab 10 (ayat 37-42), yang dengannya Yesus memerintahkan kedua belas rasul, pada saat yang di dalamnya Ia mengutus mereka untuk pertama kalinya ke desa-desa di Galilea dan Yudea. Dalam bagian terakhir ini, Yesus menekankan dua aspek penting bagi kehidupan murid misioner : pertama, bahwa ikatannya dengan Yesus lebih kuat daripada ikatan lainnya; kedua, bahwa misionaris tidak membawa dirinya sendiri tetapi Yesus, dan melalui Dia kasih Bapa surgawi. Kedua aspek ini terhubung, karena semakin Yesus berada di pusat hati dan kehidupan murid, semakin murid tersebut "tembus pandang" terhadap kehadiran-Nya. Keduanya berjalan bersama-sama.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Juni 2017 : TENTANG HARI RAYA SANTO PETRUS DAN PAULUS

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Para Bapa Gereja suka membandingkan Rasul Suci Petrus dan Paulus menjadi dua kolom, yang padanya pembangunan Gereja yang kasat mata bertumpu. Keduanya metereikan dengan darah mereka kesaksian yang diberikan terhadap Kristus, dengan pewartaan dan pelayanan mereka kepada jemaat kristiani yang baru lahir. Kesaksian ini terungkap dalam Bacaan-bacaan Kitab Suci dari liturgi hari kini, Bacaan-bacaan yang menunjukkan mengapa iman mereka, yang diakukan dan diwartakan, kemudian dimahkotai dengan ujian kemartiran yang tertinggi.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 28 Juni 2017 : PENGHARAPAN ADALAH KEKUATAN PARA MARTIR

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita merenungkan pengharapan kristiani sebagai kekuatan para martir. Ketika, dalam Injil, Yesus mengutus murid-murid-Nya, Ia tidak memperdaya mereka dengan khayalan-khayalan belaka keberhasilan yang mudah; sebaliknya, Ia jelas-jelas memperingatkan mereka bahwa pewartaan Kerajaan Allah selalu mengandung pertentangan. Dan Ia bahkan mempergunakan ungkapan yang bukan main : "Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku" (Mat 10:22). Orang-orang kristiani mengasihi, tetapi mereka tidak selalu dikasihi. Yesus segera menempatkan diri-Nya di hadapan kenyataan ini : dalam sebuah ukuran yang kurang lebih kuat, pengakuan iman terjadi dalam suasana permusuhan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 25 Juni 2017 : TENTANG KEHIDUPAN MURID MISIONER

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Injil hari ini (bdk. Mat 10:26-33), Tuhan Yesus, setelah memanggil dan mengutus murid-murid-Nya, Ia memerintahkan dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi pencobaan dan penganiayaan yang akan mereka hadapi. Mengawali perutusan bukanlah untuk melaksanakan pariwisata, dan Yesus memperingatkan murid-murid-Nya : "Kamu akan menghadapi penganiayaan". Oleh karena itu Ia menasehati mereka : "Janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka [...] Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang [...] Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa" (ayat 26-28). Mereka hanya dapat membunuh tubuh, tetapi mereka tidak berkuasa membunuh jiwa : janganlah takut akan mereka. Yesus mengutus murid-murid-Nya tidak menjamin mereka berhasil, karena perutusan itu tidak melindungi mereka dari kegagalan dan penderitaan. Mereka harus mempertimbangkan kemungkinan penolakan adalah penganiayaan. Ini agak menakutkan, tetapi merupakan kebenaran.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 21 Juni 2017 : TENTANG PARA KUDUS, SAKSI-SAKSI DAN REKAN-REKAN PENGHARAPAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Pada hari Baptisan kita, permohonan pertolongan para kudus bergema kepada kita. Pada saat itu kebanyakan dari kita adalah anak-anak, yang dibawa dalam pelukan para orang tua kita. Sesaat sebelum melakukan pengurapan dengan minyak katekumen, lambang kekuatan Allah dalam bergumul melawan kejahatan, imam mengajak seluruh umat untuk mendoakan mereka yang akan menerima Baptisan, dengan memohon pengantaraan para kudus. Itulah pertama kalinya, dalam perjalanan hidup kita, yang di dalamnya kita dikaruniai dengan persekutuan saudara dan saudari "yang lawas" ini - para kudus - yang melewati jalan kita yang sama, yang memahami kerja keras dan kehidupan kita selama-lamanya di dalam pelukan Allah. Surat kepada orang Ibrani menggambarkan persekutuan yang mengelilingi kita ini dengan ungkapan "banyak saksi" (12:1). Para kudus adalah demikian : banyak saksi.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 Juni 2017 : TENTANG HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Di Italia dan di banyak negara lain hari Minggu ini dirayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus - nama Latin yang sering digunakan : Corpus Domini atau Corpus Christi. Setiap hari Minggu, jemaat gerejawi berkumpul dalam Ekaristi, Sakramen yang dilembagakan oleh Yesus dalam Perjamuan Terakhir. Namun, setiap tahun kita memiliki sukacita merayakan hari raya yang dipersembahkan untuk misteri iman yang utama ini, mengungkapkan secara utuh penyembahan kita kepada Kristus, yang memberikan diri-Nya sebagai makanan dan minuman keselamatan.

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MISKIN SEDUNIA I (19 November 2017)



Marilah kita mengasihi, bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan

1.    “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yoh 3:18). Kata-kata Rasul Yohanes ini menyuarakan sebuah perintah yang tidak dapat diabaikan oleh orang kristiani. Keseriusan yang dengannya "murid terkasih" menyerahkan perintah Yesus ke masa kita sekarang menjadi semakin jelas dengan kontras antara kata-kata kosong yang begitu sering di bibir kita dan perbuatan nyata yang dengannya kita dipanggil untuk mengukur diri kita. Kasih tidak memiliki alibi. Kapan pun kita mulai mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi, kita harus membawa Tuhan sebagai teladan kita; terutama ketika menyangkut mengasihi orang miskin. Cara mengasihi Putra Allah sangat terkenal, dan Yohanes menguraikannya dengan jelas. Cara tersebut berdiri di atas dua pilar : Allah mengasihi kita terlebih dahulu (bdk. 1 Yoh 4:10.19), dan Ia mengasihi kita dengan memberikan diri-Nya sepenuhnya, bahkan menyerahkan nyawa-Nya (bdk. 1 Yoh 3:16).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 14 Juni 2017 : SUMBER PENGHARAPAN KRISTIANI DITEMUKAN DALAM KASIH ALLAH YANG TANPA PAMRIH

[Sambutan Bapa Suci kepada Orang Sakit]

Selamat pagi untuk kalian semua! Jadikanlah diri kalian nyaman, jadikanlah diri kalian nyaman ... Hari ini kita akan melakukan Audiensi di dua tempat yang berbeda, tetapi kita akan dipersatukan dengan layar raksasa, jadi kalian akan lebih nyaman di sini, karena matahari bersinar di Lapangan Santo Petrus. Lapangan ini akan menjadi pemandian Turki hari ini ... Terima kasih banyak telah datang. Dan kemudian dengarkanlah apa yang akan saya katakan, tetapi dengan hati bersatu dengan mereka yang berada di Lapangan: Gereja seperti ini. Satu kelompok ada di sini, yang lain ada di sana, dan ada lagi di sana, tetapi semuanya bersatu. Dan siapa yang mempersatukan Gereja? Roh Kudus. Marilah kita berdoa kepada Roh Kudus untuk mempersatukan kita semua hari ini dalam Audiensi ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Juni 2017 : TENTANG HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari Minggu ini, Hari Raya Tritunggal Mahakudus, membantu kita memasuki misteri jatidiri Allah. Surat Kedua yang ditujukan Santo Paulus kepada jemaat di Korintus menyajikan kata-kata sambutan : "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian" (2 Kor 13:13). "Berkat" Rasul Paulus ini - katakanlah - adalah buah pengalaman pribadinya akan kasih Allah, yaitu kasih yang dinyatakan Kristus yang bangkit kepadanya, yang mengubah hidupnya dan "mendorong"-Nya untuk membawa Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Dari pengalaman kasih karunia ini, Paulus dapat menasehati umat kristiani dengan kata-kata ini : "Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera" (ayat 11). Jemaat kristiani, terlepas dari seluruh keterbatasan manusiawinya, dapat menjadi cerminan persekutuan Tritunggal, persekutuan kebaikan dan keindahannya. Tetapi hal ini - seperti diperlihatkan oleh Paulus sendiri - tentu saja melalui pengalaman akan kerahiman Allah, pengalaman akan pengampunan-Nya.